Gentle Parenting

Gentle Parenting Terasa Berat Bagi Sebagian Orangtua

Gentle Parenting Terasa Berat Bagi Sebagian Orangtua Sehingga Banyak Sekali Yang Tidak Menerapkannya Dalam Kehidupan. Saat ini Gentle Parenting sering kali di anggap sebagai pola asuh yang ideal dan juga penuh empati. Tapi ada juga sebagian orang tua yang merasa bahwa pola asuh ini terlalu melelahkan. Hal ini karena pola asuh nya menuntut kesabaran yang tinggi di dalam setiap situasi. Jika hal ini di terapkan maka orang tua harus mengelola emosi sebelum merespon perilaku anak. Ini bukanlah hal yang mudah karena orang tua juga bisa sedang merasakan lelah.

Inilah yang membuat banyak orang tua merasa pola asuh seperti ini bukanlah hal yang mudah. Para orang tua harus mengendalikan emosi dan harus tetap tenang saat anak tantrum. Dan juga para orang tua harus menghindari reaksi spontan seperti marah atau membentak. Tentu saja banyak orang tua yang merasa kesulitan karena banyak orang yang belum terbiasa untuk mengelola emosi dengan baik. Sehingga banyak sekali orang tua yang tumbuh dengan pola asuh yang keras karena mereka merasa pola asuh yang lembut membutuhkan usaha yang besar.

Kemudian pola asuh ini terasa sulit di terapkan karena adanya tekanan dari lingkungan. Hal ini karena orang tua sering mendapatkan komentar dari keluarga atau lingkungan sekitar. Anak yang terlalu bebas di anggap seperti kurang disiplin oleh lingkungannya. Hal seperti inilah yang membuat orang tua ragu pada pilihannya. Mereka merasa di hakimi secara mental dan merasa sendirian dalam proses mengasuh anak. Dan pastinya pola asuh seperti ini membutuhkan konsistensi yang tinggi. Nantinya orang tua harus bisa menerapkan hal yang sama setiap hari.

Tantangan Dalam Menerapkan Gentle Parenting

Tantangan Dalam Menerapkan Gentle Parenting tentu sangat banyak karena menuntut kesabaran orang tua. Hal ini karena dalam praktiknya tidak semua situasi bisa berjalan dengan lancar. Karena anak bisa saja tantrum di waktu yang tidak tepat dan hal ini membuat orang tua merasa lelah. Inilah yang membuat respon tenang jadi sulit untuk di terapkan.

Tantangan yang paling besar dalam menerapkan pola asuh ini adalah mengelola emosi diri sendiri. Hal ini karena pola asuh tersebut harus memberikan respon yang tenang dan juga empati. Padahal semua orang tua juga merupakan manusia yang memiliki batas emosi. Mereka juga memiliki tekanan pekerjaan yang sering masih terbawa ke rumah. Dan tidak sedikit pula kurang tidur menjadi faktor kurangnya kesabaran. Sehingga dengan emosi yang tidak stabil untuk membuat respon yang lembut terasa lebih berat.

Tantangan yang kedua adalah konsistensi dalam bersikap. Kalau seperti ini tentu harus memiliki aturan yang jelas serta konsisten setiap hari. Sehingga nantinya anak harus di perlakukan dengan batasan yang sama setiap hari. Tapi hal yang harus di perhatikan adalah rutinitas orang tua sering kali berubah. Kesibukan kesibukan itulah yang membuat aturan di terapkan secara tidak konsisten. Dan akhirnya hal seperti ini bisa membuat anak bingung dan orang tua pun merasa gagal dalam menjalankan pola asuhnya.

Kemudian pola asuh sepertinya menuntut komunikasi yang lebih panjang. Nantinya para orang tua harus menjelaskan alasan di balik di berlakukannya aturan pada anak. Padahal proses seperti ini memakan waktu dan juga energi. Sehingga pada saat terburu-buru hal seperti ini terasa sulit untuk di terapkan. Orang tua ingin sekali mendapatkan solusi yang tepat padahal pola asuh seperti ini mengajak untuk memperlambat respon anak.

Kesalahan Umum

Kesalahan Umum saat mencoba gentle parenting terjadi karena pemahaman orang tua belum butuh. Hal ini karena banyak sekali orang tua yang merasa tertarik dengan pola seperti ini karena terdengar lembut dan penuh kasih sayang. Padahal penerapannya tidak selalu mudah. Pola asuh seperti ini bukan berarti membiarkan anak untuk melakukan apa saja. Kesalahpahaman seperti inilah yang bisa menjadi masalah awal sehingga orang tua merasa pola asuh seperti ini tidak akan berhasil.

Kesalahan lainnya yang sering terjadi adalah menganggap bahwa pola asuh seperti ini tidak memiliki batasan. Sehingga para orang tua takut sekali untuk bersikap tegas pada anaknya. Mereka sangat takut untuk di anggap keras atau tidak empati padahal pola asuh seperti ini membutuhkan aturan yang jelas. Karena anak bisa merasa nyaman dengan batasan yang dibuat dengan konsisten. Jika tidak memiliki batasan maka anak akan merasa bingung dan juga frustrasi.

Kesalahan lainnya adalah pola asuh seperti ini harus menekan emosi dari diri sendiri secara berlebihan. Banyak sekali orang tua yang merasa di tuntut untuk selalu tenang sehingga mereka menahan amarah dan mengelolanya dengan tidak sehat. Jika emosi terus dipendam maka tentunya bisa meledak di kemudian hari. Padahal pola asuh seperti ini tidak melarang emosi yang penting adalah cara mengekspresikan.

Dan yang terakhir adalah berharap hasil yang instan dari pola asuh seperti ini. Banyak sekali orang tua yang merasa kecewa pada saat anak tetap tantrum. Mereka merasa sudah melakukan semua langkah dengan benar padahal perubahan perilaku dari anak membutuhkan waktu. Sehingga proses belajar anak tidak selalu terlihat dengan cepat. Maka dari itu kesabaran jangka panjang dari orang tua juga sangat di butuhkan.

Menjaga Konsistensi

Menjaga Konsistensi pada saat menerapkan pola asuh seperti ingin tentu terasa melelahkan. Banyak sekali orang tua yang ingin konsisten tapi justru malah banyak mengorbankan diri sendiri. Maka dari itu dibutuhkan strategi yang tepat agar konsistensi tidak berubah menjadi beban. Hal ini karena konsisten dilakukan untuk membantu bukan malah menyakiti diri sendiri maka para orang tua harus memahami dan menjalaninya dengan cara yang sehat.

Mulailah konsistensi kita dengan memahami batas kemampuan dari diri sendiri. Pahamilah bahwa tidak semua hal bisa di lakukan dengan sempurna di sepanjang waktu. Maka dari itu harus mengenali batas pada diri sendiri karena mengenali batas bukan berarti kita menyerah. Ini juga merupakan bentuk kepedulian pada diri sendiri karena jika tubuh dan pikiran kita lelah maka konsistensi juga harus di sesuaikan.

Kemudian anda harus membuat target yang realistis. Hal ini karena jika kita membuat target yang terlalu tinggi maka bisa memicu rasa gagal. Dan jika rasa gagal itu terjadi berulang kali tentu bisa melukai mental para orang tua. Cukup lakukan langkah kecil namun konsisten dan tetap rutin untuk menjaga konsistensi ini. Hanya dengan cara seperti inilah yang membuat konsistensi terasa lebih ringan untuk di terapkan.

Kemudian para orang tua juga harus mengelola ekspektasi mereka. Hal ini sangat penting karena banyak sekali orang tua yang merasa harus selalu kuat dan juga stabil. Padahal ekspektasi sepertinya tentunya tidak realistis. Konsistensi yang di lakukan bukan berarti orang tua harus selalu tenang dan juga ideal. Karena akan ada hari yang baik dan juga hari yang sulit sehingga orang tua harus menerima kenyataan bahwa mengelola ekspektasi bisa membantu menjaga kesehatan mental. Inilah keunikan dari pola asuh Gentle Parenting.