
Komang Ayu Akui Memiliki Masalah Mental Namun PBSI Belum Beri Psikolog
Komang Ayu Akui Memiliki Masalah Mental Namun PBSI Belum Beri Psikolog Sehingga Bisa Berdampak Pada Performa Atlet. Saat ini Komang Ayu Cahya Dewi, atlet tunggal putri Indonesia, secara jujur mengungkapkan bahwa dirinya tengah berjuang menghadapi masalah kesehatan mental yang cukup serius. Ia merasa tekanan dan beban yang ia tanggung di arena pertandingan mulai memengaruhi fokus dan performanya. Setelah tampil impresif di awal tahun, Komang mulai merasakan penurunan performa yang tidak bisa dijelaskan dari sisi teknis semata. Ia mengakui bahwa beban mental menjadi faktor utama yang mengganggu konsistensinya di sejumlah turnamen besar. Dalam pengakuannya, ia merasa tidak memiliki ruang cukup untuk menyalurkan tekanan emosional yang menumpuk dari berbagai sisi.
Meski sudah menyampaikan kondisi ini kepada pelatih dan tim pendukungnya, Komang menyebut bahwa hingga saat ini belum ada bantuan langsung dari psikolog yang disediakan oleh federasi. Ia bahkan tengah berusaha mencari bantuan dari luar untuk bisa mengatasi persoalan tersebut secara mandiri. Situasi ini memunculkan pertanyaan tentang keseriusan perhatian terhadap aspek kesehatan mental di lingkungan pelatnas. Dalam dunia olahraga modern, dukungan psikologis tidak kalah penting dari pelatihan fisik dan strategi. Atlet tidak hanya berjuang dengan lawan di lapangan, tetapi juga harus bertarung dengan tekanan dari ekspektasi, hasil pertandingan, dan tuntutan pribadi.
Ketiadaan layanan psikolog bagi atlet sekelas Komang Ayu menunjukkan masih adanya kekosongan penting dalam sistem pembinaan atlet nasional. Padahal, di banyak negara, psikolog olahraga telah menjadi bagian wajib dalam tim pendukung atlet elit. Komang sendiri menunjukkan keberanian luar biasa dengan terbuka bicara tentang masalahnya. Harapannya, keterusterangannya ini bisa menjadi momentum untuk mendorong perubahan, agar federasi lebih responsif dalam memenuhi kebutuhan mental para atlet.
Belum Mendapatkan Pendampingan Psikologis Dari PBSI
Komang Ayu Cahya Dewi, pebulutangkis tunggal putri Indonesia, tengah menghadapi masa sulit dalam kariernya akibat tekanan mental yang tak kunjung mendapatkan perhatian serius dari federasi. Meski telah menunjukkan potensi besar dan pernah melaju ke final turnamen internasional, Komang mengaku saat ini performanya terhambat bukan oleh teknik atau fisik, melainkan oleh kondisi mental yang tidak stabil. Ia merasa beban sebagai atlet nasional cukup berat, terlebih saat hasil yang di raih tak sebanding dengan usaha keras yang telah di berikan. Namun, yang lebih mengkhawatirkan, hingga kini ia Belum Mendapatkan Pendampingan Psikologis Dari PBSI, federasi yang seharusnya memberikan dukungan penuh dalam segala aspek, termasuk kesehatan mental.
Komang menyatakan bahwa ia telah berkomunikasi dengan pelatih terkait persoalan ini, namun bantuan psikolog profesional yang di butuhkan belum juga di berikan. Ia bahkan harus mencari pendampingan psikolog secara mandiri dari luar, yang menunjukkan bahwa sistem pendampingan mental di tubuh PBSI masih belum memadai. Padahal, tekanan sebagai atlet pelatnas bukan hal kecil, apalagi jika harus tampil di turnamen besar dengan harapan publik yang tinggi. Kondisi mental yang tidak stabil bisa mengganggu fokus saat bertanding, memperburuk hasil, dan memperpanjang siklus tekanan yang di hadapi atlet.
Kurangnya pendampingan psikologis ini menjadi catatan penting bagi pembinaan olahraga Indonesia. Di era sekarang, kesehatan mental sama pentingnya dengan kebugaran fisik dan strategi permainan. Seharusnya, PBSI memiliki sistem yang secara rutin memantau kondisi mental atlet, tidak hanya ketika performa menurun. Komang adalah contoh nyata bahwa keberhasilan atlet tidak bisa hanya di lihat dari sisi teknis. Di perlukan pendekatan holistik yang mencakup pendampingan emosional, motivasi, dan psikologi agar atlet bisa tampil optimal dan berkelanjutan.
Komang Ayu Ungkap Sedang Mengalami Masalah Mental
Komang Ayu Ungkap Sedang Mengalami Masalah Mental yang memengaruhi penampilannya di lapangan. Pengakuan ini di sampaikan Komang setelah mengalami kekalahan beruntun di sejumlah turnamen besar. Ia menyebutkan bahwa bukan teknik atau kondisi fisik yang menjadi penghambat utama dalam performanya, melainkan beban mental yang terus menumpuk. Dalam suasana yang penuh tekanan sebagai atlet pelatnas, Komang merasakan bahwa mentalnya mulai terganggu dan kesulitan mengendalikan emosinya saat bertanding. Ia merasa beban ekspektasi dan tanggung jawab sebagai perwakilan Indonesia membuatnya tertekan secara psikologis.
Komang juga mengungkapkan bahwa ia sudah mencoba menyampaikan persoalan ini kepada pelatih dan tim di pelatnas. Namun, ia belum mendapatkan bantuan langsung dari tenaga profesional di bidang psikologi. Ia merasa harus mencari solusi sendiri dengan berusaha mendapatkan psikolog dari luar. Situasi ini mencerminkan bahwa sistem pembinaan atlet di pelatnas belum secara maksimal menyediakan dukungan mental, padahal dalam dunia olahraga modern, aspek psikologi sudah menjadi bagian penting dalam menunjang performa atlet. Pengakuan Komang membuka mata banyak pihak bahwa perjuangan atlet tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga dalam konflik batin yang mungkin tidak terlihat.
Keberanian Komang untuk berbicara jujur soal kesehatan mental menunjukkan sisi manusiawi dari seorang atlet yang selama ini sering di anggap hanya sebagai simbol prestasi. Ia mengingatkan bahwa di balik semangat bertanding, ada tekanan yang tak sedikit. Dengan terbukanya Komang mengenai isu ini, di harapkan ada perubahan sistemik dalam perhatian terhadap kondisi mental para atlet. Federasi seperti PBSI seharusnya menjadikan ini sebagai peringatan bahwa dukungan terhadap atlet harus bersifat menyeluruh, tidak hanya dari sisi fisik dan teknik, tetapi juga mental.
Kesehatan Mental Memegang Peranan Sangat Penting
Kesehatan Mental Memegang Peranan Sangat Penting dalam dunia olahraga, bahkan sama vitalnya dengan kebugaran fisik dan keterampilan teknis. Seorang atlet yang secara fisik prima namun mengalami gangguan mental tidak akan mampu tampil secara maksimal di lapangan. Dalam situasi kompetitif yang sarat tekanan, seorang atlet harus mampu menjaga ketenangan, fokus, serta daya tahan emosional agar dapat membuat keputusan yang tepat dan menjaga performa konsisten. Tekanan untuk terus menang, tuntutan dari publik, persaingan internal, hingga jadwal latihan yang padat dapat menjadi beban psikologis yang berat. Jika tidak di tangani dengan baik, tekanan itu bisa berubah menjadi stres kronis, kecemasan berlebihan, bahkan depresi.
Dalam konteks ini, keberadaan psikolog olahraga atau pendamping mental menjadi sangat penting. Atlet membutuhkan dukungan profesional untuk membantu mereka mengenali, mengelola, dan mengatasi tekanan emosional yang di hadapi. Psikolog bisa membantu membangun kepercayaan diri, mengelola rasa takut gagal, serta mempersiapkan mental sebelum pertandingan penting. Selain itu, pendampingan mental juga membantu atlet menjaga semangat dan motivasi di tengah cedera, kekalahan, atau stagnasi prestasi. Kesehatan mental yang baik menciptakan fondasi bagi atlet untuk berkembang secara berkelanjutan dan menghadapi tantangan dengan lebih dewasa.
Lebih jauh, perhatian pada kesehatan mental juga berdampak positif terhadap kehidupan pribadi atlet. Mereka bisa lebih seimbang antara tuntutan karier dan kehidupan di luar lapangan. Atlet yang sehat secara mental cenderung lebih bahagia, lebih kooperatif dalam tim, dan memiliki hubungan sosial yang lebih baik. Oleh karena itu, organisasi olahraga, federasi, dan pelatih perlu memberikan perhatian serius terutama unutk Komang Ayu.